BUAT VIRUS YUKK!!!

Cara Membuat Virus Dalam Sekejab !

Masih ingat dengan virus Aksika? Virus “open source” yang satu itu memang memiliki banyak sekali varian. Tidak heran karena source code-nya memang disedia kan bebas di Internet, jadi siapapun dapat dengan mudah mengubah dan meng-compile source code-nya dan jadilah varianbaru.

Berawal dari kemudahan itulah, banyak virus maker ataupun programer pemula mencoba–coba untuk membuat virus tanpa perlu repot. Paling yangdibutuhkan hanyalah pengetahuan seputar operating system dan programming.

Namun kemudahan itu belum seberapa, bila dibandingkan dengan menggunakan program Virus Generator. Dari namanya saja, kita sudah dapat mengira kegunaan dari program tersebut. Ya, Virus Generatormerupakan program untuk dapat membuat virus secara mudah dan instan.

Bermula dari sampel sebuah virus yang lumayan banyak dikirimkan oleh pembaca kepada kami. PC Media Antivirus mengenalnya dengan nama Gen.FFE-Fajar, namun antivirus lain ada juga yang menyebutnya dengan nama Brontok.D. Dengan penyelidikan sederhana akhirnya diketahui bahwa virus tersebut dibuat menggunakan Virus Generator.

Fast Firus Engine (FFE)
Pembuat Generator tersebut menamakan program buatannya itu dengan nama Fast Firus Engine. Seperti yang terlihat pada program ataupun situs pembuatnya, ia memberitahukan bahwa program ini hanya untuk tujuan pembelajaran dan tidak untuk tindakan merusak. Namun tetap saja, bilaprogram ini sudah jatuh ke tangan yang salah, pasti akan digunakan untuk pengrusakan.

Virus Generator ini dibuat menggunakan bahasa Visual Basic dan di-compress menggunakan packer tELock. Dalam paketnya terdapat dua buah file, yakni Fast Firus Engine.exe dan data.ex_. Fast Firus Engine. exe merupakan program utama dalam pembuatan virusnya dan sementara file data.ex_ sebenarnya merupakan badan virus asli yang belum dimodifi kasi.

Saat file Fast Firus Engine.exe dijalankan, maka pengguna akan dihadapkan pada sebuah interface. Anda hanya disuruh mengisikan nama virus, nama pembuat, dan pesan-pesannya. Lalu dengan menekan tombol Generate, maka jadilah virus Anda.

Cara kerja dari Generator tersebut sebenarnya sangat sederhana. Ia hanya menambahkan data yang Anda masukkan tadi ke bagian akhir file virus asli (data.ex_). Nantinya informasi tersebut digunakan oleh virus dalam proses infeksi.

Bagaimana Virus Menginfeksi?
Virus hasil ciptaan FFE memang terlihat sederhana. Sama seperti Generatornya, ia juga dibuat menggunakan bahasa Visual Basic yang di-compile dengan metode Native- Code. Lalu di compress menggunakan tELock agar ukurannya semakin kecil. Virus ini memiliki ukuran tubuh asli sebesar 55.296 bytes.

Saat virus kali pertama dieksekusi, ia akan membuat beberapa file induk di beberapa lokasi. Seperti di direktori \%WINDOWS%\, akan terdapat file dengan nama.exe, Win32 exe, activex.exe, dan %virusname% (nama virus sesuai yang diisikan oleh sang pembuatnya pada Generator). Di \%WINDOWS%\ %system32%\ akan terdapat file copy.pif, _default.pif, dan surif.bin. Selain itu, ia juga mengubah atau membuat file Oeminfo.ini yangmerupakan bagian dari System Properties. Jadi apabila komputer Anda terinfeksi oleh virus hasil generate dari FFE, maka pada System Propertiesakan terdapat tulisan “Generated by Fast Firus Engine”.

Di direktori \%WINDOWS%\%System%\ akan terdapat beberapa file induk lagi yang menggunakan nama yang sama seperti file system milik Windows, seperti csrss.exe, winlogon.exe, lsass.exe, smss.exe, svchost. exe, dan winlogon.exe.

Dan tak lupa, pada root drive pun akan terdapat file dengan nama “baca euy.txt” yang berisikan pesan–pesan dari si pembuat virus. Jadi pada saat membuat virus dengan menggunakan Generator tersebut, maka pembuatnya akan disuguhkan beberapa kotak input, seperti Author of the virus, Name of the virus, dan Messages. Nah, isi dari kotak messages ini yang nantinya ditampilkan pada file “baca euy.txt” tersebut.

Setelah virus berhasil meng-copy-kan file induknya ke dalam sistem tersebut, ia akan menjalankan file induk tadi, sehingga pada memory akan terdapat beberapa process virus, seperti csrss.exe, winlogon.exe, lsass. exe, smss.exe, svchost.exe, dan winlogon.exe. Nama process yang mirip dengan process/services milik Windows tersebut mungkin sengaja untuk mengecoh user. Untuk membedakannya, Anda dapat melihat path atau lokasi process tersebut dijalankan. Process virus ini biasanya berjalan di direktori System sementara process/services milik Windows yang running biasanya berasaldari direktori System32.

Mengubah Registry
Virus ini menambahkan beberapa item startup pada registry agar pada saat memulai Windows ia dapat running secara otomatis atau untuk mengubah setting-an Windows agar sesuai keinginannya. Informasi mengenai registryyang diubahnya tidak akan dapat dengan mudah kita lihat karena dalam kondisi terenkripsi.

Yang ia ubah adalah seperti nilai dari item Userinit, yakni dengan menambahkan parameter ke file induk. Pada key HKEY_CURRENT_ USER\Software\Microsoft\Windows NT\CurrentVersion\Windows\Load juga akan diubah itemnya agar mengarah ke file induknya dengan nama Activex.exe. Pada HKEY_CURRENT_USER \Software\Microsoft\ Windows\CurrentVersion\Run\ akan terdapat item baru dengan nama present. Key HKEY_ LOCAL_MACHINE\SOFTWARE\Microsoft\ Windows\CurrentVersion\Run\ akan terdapat item baru juga dengan nama Default dan %username%, username di sini merupakan nama user yangsedang aktif saat itu.

Virus hasil generate dari FFE juga mengubah shell extension untuk file .exe, yakni dengan mengubah type information dari Application menjadi File Folder. Setting-an folder Options juga diubah agar tidak menampilkan extension dan setiap fi le dengan attribut hidden. Dan agar dapat aktif pada safe-mode, ia pun mengubah nilai dari item SafeBoot.

Dengan menggunakan bantuan registry Image File Execution Options, virus ini juga menambahkan item baru pada section tersebut dengan nama cmd.exe, msconfi g.exe, regedit.exe, dan taskmgr.exe. Maksudnya adalah agar setiap user yang mengakses program dengan nama file seperti itu, maka akan di-bypass oleh Windows dan dialihkan ke file induk si virus.

Bagaimana Virus Menyebar?
Virus ini dapat menyebar melalui media penyimpan data seperti flash disk. Saat Anda mencolokkan flash disk pada komputer yang terinfeksi, maka pada flash disk tersebut akan terdapat beberapa file baru, seperti explorer.exe, %virusname%.exe, dan msvbvm60.dll. Juga beberapa file pendukung seperti desktop.ini, autorun.inf agar ia dapat running otomatis pada saat mengakses flash disk tersebut.

File virus lainnya pun disimpan pada direktori baru di flash disk tersebut dengan nama Recycled yang berisikan file Firus.pif dan Folder.htt. Kesemua file virus tersebut dalam kondisi hidden sehingga tidak terlihat.

Virus Beraksi
Untuk dapat bertahan hidup, virus ini pun akan mencoba untuk memblok setiap program yang tidak ia inginkan seperti tools atau program antivirustermasuk PCMAV. Sama seperti halnya data registry yang diubah, data mengenai program apa saja yang diblok olehnya juga terdapat dalam tubuhnya dalam kondisi terenkripsi.

Jadi, saat virus sudah stay di memory, ia akan memonitor setiap programyang diakses oleh user, yakni dengan membaca nama file dan juga caption Window. Beberapa nama file antivirus yang dicoba untuk dibloknya adalah nav.exe, avgcc.exe, njeeves.exe, ccapps.exe, ccapp.exe, kav.exe, nvcoas.exe, avp32.exe, dan masih banyak lagi yang lainnya. Termasuk beberapa program setup atau installer juga tidak dapat dijalankan pada komputer terinfeksi.

Pencegahan dan Penanggulangan
PC Media Antivirus RC19 ini dapat membersihkan komputer terinfeksi secara tuntas dan akurat 100% setiap virus yang dibuat dengan menggunakan Fast Firus Generator. Untuk menghindari aksi blok oleh virus terhadap PCMAV, silakan Anda rename terlebih dahulu file PCMAV misalnya PCMAV-CLN.EXE menjadi MERDEKA.EXE.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

BAHAYA DBD

Demam Berdarah Dengue dan Permasalahannya


Jumat, 27 Februari, 2004 oleh: Siswono
Demam Berdarah Dengue dan Permasalahannya
Gizi.net - DEMAM berdarah dengue (DBD) kembali melanda negara kita. Penyakit ini tiap tahun telah membawa banyak korban jiwa, bahkan jumlah kasus serta korban jiwa meningkat tiap tahunnya. Jumlah korban penderita penyakit demam berdarah sepanjang tahun 1999 sebanyak 21.134 orang, tahun 2000 sebanyak 33.443 orang, tahun 2001 45.904 orang, tahun 2002 40.377 orang, dan tahun 2003 sebanyak 50.131 orang (Media Indonesia, 17/2/2004). Sedangkan pada 2004, sampai saat ini, telah jatuh korban tidak kurang dari 247 orang meninggal (Kompas, 25/2/2004).

Karena peningkatan jumlah kasus serta angka kematian, ada yang mensinyalir kalau virus dengue yang mewabah sekarang adalah virus baru. Kemungkinan ini tidak tertutup karena dengue adalah virus RNA (virus yang menggunakan RNA sebagai genomnya) yang bermutasi jauh lebih cepat dibandingan dengan virus DNA. Begitu juga kemungkinan rekombinasi (penyilangan gen) juga tidak bisa dikesampingkan. Beberapa penelitian juga telah membuktikan terjadinya rekombinasi pada virus dengue. Kedua mutasi dan rekombinasi ini akan melahirkan virus 'berwajah' baru, dengan sifat dan karakter yang baru.

Walaupun ada kemungkinan mutasi dan rekombinasi sehingga munculnya virus baru, kepastian apakah virus tersebut memang virus baru atau tidak, harus dikonfirmasikan secara ilmiah dengan menganalisis gen dari virus tersebut.

Dengue dan permasalahannya

Sampai saat ini belum ditemukan obat atau vaksin untuk penanggulangan DBD ini. Beberapa usaha yang berhubungan dengan pengembangan obat telah dan tengah dilakukan. Dalam satu penelitian dikatakan bahwa
interferon, ribavirin, 6-azauridine, and glycyrrhizin menghambat perkembangbiakan flavivirus termasuk virus dengue secara in vitro (Crance et al, 2003), tetapi belum dibuktikan secara in vivo. Begitu juga dengan usaha pengembangan antivirus melalui penemuan inhibitor enzim yang diperlukan untuk perkembangbiakan virus seperti protease, helikase, RNA polimerase, dan lain-lain. Semua percobaan baru pada tahap pengujian aktivitas secara in vitro, yang masih jauh dari pengembangan menjadi obat yang bisa digunakan untuk pasien.

Demikian juga halnya dengan pengembangan vaksin. Ada beberapa kesulitan untuk pengembangan vaksin Dengue ini. Di antaranya adalah kompleksnya virus dengue ini. Virus dengue terdiri dari 4 serotipe (DEN-1, DEN-2, DEN-3, dan DEN-4), sehingga vaksin yang dikembangkan harus mengandung antigen dari ke-4 jenis serotipe ini. Artinya, agar bisa memproteksi tubuh dari serangan virus dengue, vaksin yang dipakai harus bisa mengindus antibodi terhadap ke-4 jenis serotipe ini di dalam tubuh.

Kesulitan yang
kedua adalah infeksi virus dengue ini tidak mengindus antibodi yang bisa menahan tubuh dari serangan. Pada kebanyakan virus, infeksi akan mengindus antibodi yang bisa menahan tubuh terhadap serangan virus berikutnya. Tapi hal ini berbeda dengan virus dengue. Infeksi pertama (primary infection) malah mempermudah tubuh untuk mendapat serangan berikutnya (secondary infection). Begitu juga gejala yang diakibatkannya. Serangan berikutnya menimbulkan gejala yang lebih berat dan fatal. Jika pada serangan pertama hanya menyebabkan panas (dengue fever/DF), serangan berikutnya bisa menyebabkan panas beserta pendarahan (dengue hemmorhagic fever/DHF) atau bahkan disertai shock (dengue shock syndrome/DSS).

Karena itu, pengembangan vaksin harus disertai dengan pertimbangan kemungkinan ini. Artinya, kita harus menemukan kondisi yang optimal agar pemberian vaksin tidak membuat tubuh lebih sensitif terhadap serangan virus dengue. Di antara kondisi yang harus dipertimbangkan bisa berupa jumlah dosis, jumlah vaksin itu sendiri, komposisi masing serotipe, dan lain-lain.

Walaupun demikian, karena adanya urgensi pengembangan vaksin ini, beberapa institusi tanpa putus asa tetap melakukan usaha pengembangan vaksin dengue ini, di antaranya adalah Pusat Penyakit Infeksi FK Unair Surabaya, Mahidol University Bangkok, dan Walter Reed Army Institute Amerika SerikatS. Namun, kandidat vaksin masih pada tahap
clinical trial.

Perlunya 3-M

Sudah tidak diragukan lagi bahwa penyebaran wabah dengue disebabkan oleh nyamuk
Aedes aegypti, terutama nyamuk betina. Nyamuk ini sangat pintar menyembunyikan suaranya dengan membuat gerakan sayap yang halus sehingga nyaris tak terdengar. Nyamuk betina ini menghisap darah manusia sebagai bahan untuk mematangkan telurnya. Hingga kini belum diketahui mengapa hanya darah manusia yang dikonsumsi nyamuk ini, tidak darah makhluk hidup lainnya.

Bila nyamuk jenis lain bertelur dan menetaskannya pada sarangnya,
Aedes aegypti betina melakukannya di atas permukaan air. Karena dengan demikianlah, telur-telurnya itu berpotensi menetas dan hidup. Telur menjadi larva yang kemudian mencari makan dengan memangsa bakteri yang ada di air tersebut. Karena itu tidak heran bila nyamuk penyebab demam berdarah ini berkembang biak pada genangan air, terutama yang kotor.

Karena itu, penyebaran wabah dengue dipengaruhi oleh ada tidaknya nyamuk Aedes aegypti yang dipengaruhi lagi oleh ada tidaknya genangan air yang kotor. Karena itu, pengontrolan dengue bisa dilakukan dengan pengontrolan nyamuk
Aedes aegypti. Pengontrolan nyamuk bisa dilakukan dengan berbagai cara. Pertama adalah membunuh nyamuk, baik dengan pestisida maupun dengan ovitrap, yakni dengan bak perangkap yang ditutup kasa. Penggunaan pestisida, selain memerlukan biaya dan berbahaya pada manusia, juga akan memicu munculnya nyamuk yang resistan, sehingga cara ini bukanlah cara yang efektif untuk jangka panjang. Untuk jangka pendek, cara ini masih bisa digunakan.

Cara kedua adalah membuat nyamuk transgenik supaya tidak terinfeksi oleh virus dengue. Jika nyamuk tidak bisa diinfeksi oleh virus dengue, otomatis manusia tidak akan pernah terinfeksi oleh virus dengue. Cara ini digunakan oleh beberapa peneliti untuk mengatasi masalah malaria. Namun, pengembangan cara ini masih memerlukan puluhan tahun untuk bisa diaplikasikan.

Cara yang ketiga adalah pemberantasan sarang nyamuk yang efektif dan efisien melalui kegiatan 3-M, yaitu menguras, menutup/menabur abate di tempat penampungan air, dan mengubur/menyingkirkan barang-barang bekas yang memungkinkan dijadikan tempat perindukan dan perkembangbiakan jentik nyamuk Aedes aegypti. Cara inilah yang efektif yang bisa kita lakukan dengan kondisi kita saat ini.

Penyuluhan

Walaupun 3-M adalah cara yang mudah dan bisa kita lakukan karena tidak memerlukan biaya, pada kenyataannya cara ini tidak terlaksana dengan baik. Ini sangat erat hubungannya dengan kebiasaan hidup bersih dan kesadaran masyarakat terhadap bahaya demam berdarah dengue ini. Kurangnya kesadaran masyarakat mungkin disebabkan beberapa hal, di antaranya adalah faktor ekonomi. Susahnya masyarakat untuk memenuhi kebutuhan ekonomi membuat masyarakat hanya memikirkan 'makan' tanpa peduli terhadap kebersihan dan sanitasi. Selain itu, budanya hidup bersih, sedikit banyaknya juga berpengaruh terhadap pelaksanaan 3-M ini.

Lebih dari itu, penyuluhan dari pemerintah sangat memengaruhi pelaksanaan 3-M ini. Pelaksanaan 3-M sangat dipengaruhi oleh kesadaran masyarakat akan bahaya deman berdarah dengue itu sendiri. Artinya, tidak terlaksananya 3-M juga berarti bahwa penyuluhan pemerintah kepada masyarakat tentang demam berdarah dengue ini masih kurang. Karena itu, pemerintah harus lebih aktif lagi memberikan pengertian dan penyuluhan kepada masyarakat dengan menggunakan berbagai media seperti surat kabar dan televisi. Jika tidak, kasus dengue tidak akan pernah teratasi, bahkan akan bertambah parah.***

Dr Andi Utama; Peneliti Puslit Bioteknologi-LIPI; Postdoctoral Fellow of Japan Society for Promotion of Science, National Institute of Infectious Diseases

Sumber:
http://www.mediaindo.co.id/cetak/berita.asp?id=2004022601454053

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

TUJUAN SAYA MEMBUAT BLOG INI CUMA INGIN BERBAGI
DENGAN ORANG2 YANG SAYA KENAL

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS